[101] Demokrasi Jalan Setan

Oleh: Muhammad Bajuri, Staf Pengajar di Al-Amri Islamic Boarding School, Leces, Probolinggo, Jawa Timur
Pada sesi diskusi dalam “Halqah Ulama Jawa Timur”, 9-10 Maret 2013, di Asrama Haji Surabaya, salah seorang peserta, KH Ja’far Shodiq, asal Lamongan bertanya: Apakah demokrasi termasuk dalam subul (jalan-jalan), seperti yang difirmankan oleh Allah SWT: “Ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (subul), karena jalan-jalan (subul) itu akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (TQS. Al-An’âm [6] : 153).
Terkait dengan hal ini, Ahmad meriwayatkan dari Jabir yang berkata: “Kami duduk di samping Rasulullah SAW. Kemudian beliau menggambar sebuah garis begini di depannya. Beliau bersabda ini adalah jalan Allah SWT. Dan menggambar dua garis di sisi kanannya, dua garis lagi di sisi kirinya. Beliau bersabda ini adalah jalan setan. Kemudian beliau meletakkan tangannya di garis hitam—yang berada di tengah, lalu beliau membacakan ayat di atas, yaitu surat al-An’ân, ayat 153.
Sementara demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu “demos” dan “kratos”, artinya kekuasaan dari rakyat untuk rakyat, maksudnya rakyat menghukumi dirinya sendiri dengan hukum yang berasal darinya.
Sistem demokrasi ini dibangun dari sebuah premis: jika seorang individu melakukan dan menjalankan kehendaknya sendiri, maka ia berdaulat atas dirinya sendiri; sebaliknya jika kehendaknya dilakukan dan dijalankan oleh orang lain, maka ia menjadi budak bagi orang lain; jika kehendak umat (rakyat) dijalankan oleh sejumlah individu yang telah diberi kewenangan untuk menjalankannya, maka umat menjadi tuan atas dirinya sendiri, sebaliknya jika kehendaknya dijalankan oleh orang lain dengan paksa, maka itu otoriterisme.
Karena itu, sistem demokrasi menetapkan bahwa kedaulatan milik rakyat, yakni rakyatlah yang melakukan sendiri kehendaknya melalui orang yang telah diberi wewenang untuk melakukannya melalui pemilihan.
Kembali pada pertanyaan: Apakah demokrasi termasuk dalam subul (jalan-jalan), selain jalan Allah, yakni apakah demokrasi itu termasuk jalan setan seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW? Ya, demokrasi adalah jalan setan. Sebab dengan sistem demokrasi yang menetapkan bahwa kedaulatan milik rakyat, maka seluruh rakyat dipaksa untuk terlibat dalam menciptakan orang-orang brengsek dan para penjarah.
Mengapa dikatakan brengsek dan penjarah sebab sesuatu yang dijarahnya itu tidak tanggung-tanggung, adalah hak Allah SWT, yaitu hak membuat hukum. Allah SWT berfirman: “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.”(TQS. Al-An’âm [6] : 57).
Lebih bahayanya lagi bahwa sistem demokrasi yang tidak lain adalah jalan setan ini, telah memaksa seluruh rakyat untuk syirik, dosa yang tidak terampuni, dengan membuat tuhan-tuhan tandingan selain Allah, yaitu para wakil rakyat yang dipilih untuk diberi wewenang membuat hukum.
Inilah esensi dari firman Allah: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (TQS. At-Taubah [9] : 31).
Anehnya, sehubungan dengan demokrasi ini, kaum Muslim tampak lucu dan sekaligus menyedihkan. Mengapa, karena tingkahnya seperti orang yang berkata “Ya Allah, jauhkan kami dari bahaya”, sementara makanan dan minumannya beracun.
Kaum Muslim, minimal sehari semalam mengucapkan “ihdinâsh shirâthal mustaqîm, tunjukkan kami ke jalan yang lurus” sebanyak 17 kali. Namun mereka masih saja berjalan di jalan setan, yaitu demokrasi.
Oleh karena itu, jika kita ingin benar-benar berada di jalan yang lurus (shirâthal mustaqîm), jalan Allah, maka tinggalkan segera jalan setan, demokrasi, dan segera beralih ke jalan Allah, yaitu sistem pemerintahan Islam, Khilafah, yang pondasi utamanya adalah, bahwa kedaulatan milik syara’.[]

source: http://mediaumat.com/opini/4375-101-demokrasi-jalan-setan.html

title: [101] Demokrasi Jalan Setan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *