[107] Kecil-kecil Jadi Mucikari

Zina di depan mata, ke mana penguasa negeri Muslim ini?
Tidak terbayang, bagaimana perasaan orangtua NA (15), siswi SMP swasta di Surabaya, Jawa Timur. Seorang ABG yang tega menjerumuskan kakak kandung dan teman-temannya menjadi pelacur. Hancur sudah nama baik, harapan dan masa depan mereka.
Ya, NA harus berurusan dengan polisi gara-gara menjadi mucikari. Ia tertangkap tangan menjual tiga ABG ke pria hidung belang di Hotel Fortuna Jalan Darmokali, Surabaya, Ahad (9/6). Ironisnya, satu dari ABG yang menjadi korban adalah kakak kandung tersangka sendiri (www.merdeka.com).
Godaan Kemewahan
Maraknya pelacuran di kalangan remaja menunjukkan makin hancurnya moral generasi. Zina dini kian menjadi. Usia pelacur kian hari kian muda. Belum juga melepas seragam putih abu-abu atau bahkan putih-biru, sudah menjual diri. Bahkan lebih dari itu, sampai naik tingkat menjadi mucikari. Apakah motifnya ekonomi? Bukan! Itu sudah basi.
Para pelacur remaja itu bukan anak orang miskin. Buktinya, sekolah saja masih bisa. Saat ini, motif pelacuran sudah bergeser ke life style. Umumnya, para ABG itu menjual diri karena ingin hidup mewah. Mereka terobsesi gaya hidup masa kini: clubbing, fashion trendy dan gadget terkini.
Ambil contoh, 20 siswi sebuah SMP negeri di Tambora, Jakarta Barat, kerap mangkal menunggu pria hidung belang di lokasi prostitusi liar. Para siswi ini nekat terjun ke dunia malam agar memiliki uang dan handphone model terakhir (Kompas, 27/12/08).
Tak heran jika pelacur menjadi ‘profesi’ kedua para pelajar. Seperti pernah diungkap, sekitar 25 persen dari 239 wanita pekerja seks di Kota Sukabumi, berasal dari kaum pelajar yang disebabkan oleh keinginan hidup mewah (Antaranews-Jakarta, 2/12/09). “Dulu, penyebab para pelajar menjadi WPS lantaran faktor ekonomi. Namun, saat ini mulai bergeser menjadi gaya hidup mewah,” kata Den Huri, Korlap Gerakan Narkoba dan AIDS (GPNA)GNPA Sukabumi (Antaranews). Kondisi tak jauh berbeda terjadi di berbagai kota–bahkan desa—di negeri ini. Karena, pelacuran anak dan remaja adalah fenomena gunung es.
Warisan Penjajah
Sejarah pelacuran sama panjangnya dengan sejarah keberadaan manusia. Itu sebabnya selalu dipropagandakan bahwa pelacuran tak bisa dienyahkan. Selama permintaan dari para lelaki hidung belang ada, para pelacur akan terus dijajakan.
Di Indonesia, pelacuran berkembang pesat sejak zaman penjajahan Belanda. Pengusung ideologi sekuler-kapitalis itu menjadikan para pribumi budak nafsu. Sejak itulah pelacuran menjadi bagian dari industri seks yang lebih terorganisasi (Hull; 1997:3). Kondisi itu terlihat dengan adanya sistem perbudakan tradisional dan perseliran untuk memenuhi kebutuhan seks masyarakat Eropa.
Umumnya, aktivitas ini berkembang di daerah-daerah sekitar pelabuhan di Nusantara. Pemuasan seks untuk para serdadu, pedagang, dan para utusan menjadi isu utama dalam pembentukan budaya asing yang masuk ke Nusantara. Umumnya para utusan yang bujang itu, enggan menikah dengan perempuan pribumi karena pernikahan antar ras dilarang.
Kini, pelacuran semakin menjadi. Pemerintah melegalkan meski setengah hati. Apalagi ditunjang perkembangan teknologi informasi. Media melalui hegemoninya sukses mengampanyekan gaya hidup bebas. Jutaan perempuan, tak hanya di Indonesia tapi dunia, tergiring pada obsesi gaya hidup hedonis.
Tayangan televisi, film, sinetron, musik, VCD seks, serta perkembangan dunia mode dan fashion membuat para remaja perempuan melirik potensi seksual dan sensualitasnya. Merekapun berpikir bagaimana memanfaatkan potensi itu untuk memperoleh uang agar dapat mengikuti pola hidup konsumerisme yang sudah menjangkiti. Walhasil, menjual diri pun menjadi cara instan untuk mendatangkan rezeki.
Hapus Zina
Pelacuran jelas bukan berasal dari Islam. Sebab, pelacuran adalah perzinaan. Dan dalam Islam, perzinaan termasuk dosa besar dan merupakan perbuatan keji yang diharamkan. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (TQS Al-Isra [17]: 32).
Tidak satupun umat Islam di dunia ini yang tidak paham ayat masyhur ini. Entah Islam KTP, para pelajar, mahasiswi, karyawan, pegawai, pejabat dan terlebih ulama, tak ada yang berbeda penafsiran tentang haramnya perzinaan ini. Tapi mengapa zina semakin merajalela di depan mata? Ke mana gerangan penguasa negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini?
Peran Negara
Tidak ada orang tua yang bangga anaknya menjadi pelacur. Setiap orang tua tentu berusaha menjauhkan anak-anaknya dari kemaksiatan. Namun, menjadi orang tua saat ini memang tidak mudah. Wejangan kebaikan yang ditanamkan di rumah, belum tentu diaplikasikan anak-anak di luar rumah. Sebab, pengaruh lingkungan dan media massa sangat mendominasi.
Di sinilah peran pemerintah sangat strategis. Negaralah yang punya wewenang untuk menghapuskan pelacuran. Tidak ada kata tidak mungkin jika ada kemauan. Hal yang harus dilakukan antara lain pertama, memberi hukuman berat bagi pelaku perzinaan, baik suka sama suka maupun zina komersil.
Caranya, tutup tempat-tempat pelacuran yang terang-terangan ada datanya dan diketahui masyarakat umum. Tangkap para mucikari, pezina komersial dan pelanggannya. Sekalipun remaja belasan tahun, asal sudah baligh tidak layak dibela sebagai korban. Mereka adalah pelaku, layak diganjar sanksi.
Kedua, melarang berkembangnya industri porno, termasuk larangan menyiarkannya melalui media massa apapun. Baik media cetak, televisi, VCD porno, konten di internet, games, bioskop, komik, buku, dll. Demikian pula melarang propaganda ideologi asing yang mengampanyekan gaya hidup hedonis, seperti pergaulan bebas, penyimpangan seksual, trend yang bertentangan dengan syariah, dll.
Ketiga, memproteksi anak-anak dan remaja dari tindak kejahatan seksual, termasuk perdagangan manusia yang menjerumuskan anak dan remaja ke lembah hitam. Keempat, menciptakan sistem pendidikan berbasis agama Islam yang mampu melahirkan anak didik bermoral, bersyakhsiyah Islamiyah dan terjauhkan dari kemaksiatan. Kelima, menerapkan sistem pergaulan sosial berdasar aturan Islam yang menjamin minimnya interaksi campur baru laki-laki dan perempuan.
Semua itu hanya bisa dilakukan oleh negara yang berlandaskan ideologi Islam. Mengharapkan terhapusnya perzinaan dan pelacuran di negara demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan bertingkah laku ini sangat mustahil. Karena itu, saatnya mengubah negeri ini menuju penerapan ideologi Islam secara kaffah, agar tak ada lagi remaja-remaja menjual diri, apalagi menjadi mucikari. Naúdubillahi mindzalik.[] kholda

source: http://mediaumat.com/muslimah/4821-107-kecil-kecil-jadi-mucikari.html

title: [107] Kecil-kecil Jadi Mucikari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *