[114] NKRI Bersyariah?

Oleh: Agus Trisa, Aktivis HTI Kota Surakarta
Gagasan NKRI Bersyariah, gagasan orang-orang yang terbeli. Terbeli atas apa? Atas apa pun. Jabatan, kuasa, harta, bahkan kondisi. Jabatan, kuasa, dan harta mungkin akan bisa ditolak oleh para aktivis Muslim. Namun “kondisi” inilah yang seringkali menyebabkan para aktivis itu mulai goyah pendiriannya. Yang semula hanya berpikir soal khilafah, namun entah karena kondisi tertentu maka gagasan khilafah itu pun dinomorduakan dan yang dinomorsatukan adalah gagasan NKRI Bersyariah.
Sungguh sangat disayangkan mereka orang-orang yang terbeli dalam perjuangan. Mungkinkah mereka kurang bersabar atas perjuangan ini sehingga mereka pun berbalik arah dan mengabaikan arah perjuangan semula?
Perlu kita ketahui bersama, orang kafir, butuh waktu ratusan tahun untuk menghancurkan negara berideologi Islam (khilafah). Orang kafir butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa membangun peradaban kapitalisme yang bakal menguasai dunia.
Namun, mereka tetap “bersabar” dalam perjuangannya itu. Sebab, mereka (orang kafir) paham bahwa untuk menghancurkan sebuah negara khilafah, bukan saja menghancurkan bangunan fisiknya. Namun kaum kafir juga harus menghancurkan bangunan pemikiran kaum Muslim yang telah mengakar dalam dirinya. Sejak mulai dari masuknya misionaris-misionaris ke dalam tubuh Daulah Islamiyah, hingga mampu memukul telak pada tahun 1924.
Demikian pula perjuangan penegakan khilafah. Butuh waktu, memang iya. Sebab, untuk membangun kembali masyarakat Islam, bukanlah membangun bangunan fisik sebuah istana negara Islam lengkap dengan perangkat-perangkat kenegaraannya. Namun membangun kembali masyarakat Islam adalah dengan membangun pemikiran Islam, perasaan Islam, dan aturan-aturan Islam.
Membangun kembali masyarakat Islam adalah membangun pemahaman-pemahaman Islam yang ada di dalam diri kaum Muslim. Ini bukan jalan mudah. Sebab, yang pertama kali harus dihancurkan adalah bangunan pemikiran yang ada sebelumnya. Baru kemudian menggantinya dengan bangunan pemahaman (mafaahim) Islam.
Ini juga yang ditempuh oleh orang kafir, setelah mereka mengetahui bahwa yang harus dihancurkan adalah pemahaman masyarakat Islam, bukan bangunan fisiknya. Sebab, jika hanya menghancurkan bangunan fisik, tanpa bangunan ideologi, maka bangunan fisik itu akan bisa kembali berdiri dengan mudahnya, selama bangunan ideologi itu masih ada.
Namun, kita tidak meniru orang kafir. Justru kita berupaya membangun masyarakat Islam (negara Islam) berangkat dari teladan kita, Rasulullah SAW yang telah mencontohkannya dengan cara menghancurkan ideologi jahiliyah orang-orang Arab dan menggantinya dengan ideologi Islam yang berasaskan pada ketauhidan.
Jika memang meneladani Rasulullah SAW, lantas mengapa waktu yang digunakan untuk membangun masyarakat Islam begitu lama dan tidak seperti waktu yang digunakan oleh Rasulullah SAW?
Jika kita sudah sampai pada pembicaraan ini, maka banyak faktor yang harus dipahami. Misalnya berkaitan dengan datangnya nashrullah (pertolongan Allah). Berkaitan dengan nashrullah, ini hanyalah hak Allah. Sebagaimana dulu Rasulullah SAW pun tidak memahami kapan pertolongan Allah akan tiba.
Adanya hambatan dakwah menuju tegaknya Islam yang berasal dari kalangan Muslim sendiri, juga merupakan faktor yang memperlama perjuangan tegaknya masyarakat Islam. Hambatan ini bisa berbentuk serangan pemikiran (paham-paham kufur yang telah merasuk ke dalam diri kaum muslim), maupun hambatan politis melalui undang-undang yang diterapkan oleh negara.
Namun, apakah karena adanya hambatan-hambatan itu lantas membuat kita harus “memotong kompas” perjuangan, mencari jalan pintas, yang jauh dari metode perjuangan Rasulullah SAW yang penuh dengan kesabaran?
Apakah kondisi yang demikian berat membuat para aktivis harus menerima kenyataan berdasarkan kaidah “daripada”? Daripada tidak berkuasa, mending NKRI Bersyariah. Seperti itukah? Orang bijak, tentu tidak akan berpikir demikian.
Jadi, tetaplah bersabar sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat bersabar. Maka, hendaknya orang-orang yang tidak bersabar dalam perjuangan ini mengingat akan firman Allah: Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) kabar tentangmu.” Lihat QS. Muhammad: 31.[]

source: http://mediaumat.com/opini/5074-114-nkri-bersyariah.html

title: [114] NKRI Bersyariah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *