[97] Perempuan Sejahtera dan Mulia dengan Khilafah

Oleh: Rizki Amelia Kurniadewi, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya Malang
Sebelum Islam datang, posisi perempuan sangat memprihatinkan. Perempuan dianggap sebagai makhluk yang sangat rendah, hina, dan tak berharga. Pada masa Arab jahiliyah misalnya, perempuan dianggap sebagai aib keluarga. Sehingga ketika lahir bayi perempuan, mereka tega menguburnya hidup-hidup. Demikian pula pada masa peradaban Romawi, Cina, Hindu kuno, Yahudi kuno, dan Nasrani kuno. Perempuan dipandang sebagai makhluk yang lemah, kotor, dan menjadi sumber laknat.
Bahkan, ketika perempuan sedang haid, ia harus dibuang ke luar wilayah. Ketika pembagian harta waris pun, perempuan tidak berhak mendapatkan bagian waris, baik dari suami, ayah, atau anggota keluarganya yang lain. Perempuan juga diposisikan sama dengan pembantu, sehingga berhak dijual, sekalipun oleh ayahnya sendiri.
Kondisi tersebut telah berubah sejak Islam datang. Perempuan tidak lagi dianggap sebagai makhluk yang hina, lemah, kotor, dan tak berharga. Sebaliknya, Islam memosisikan perempuan sebagai sosok yang sangat mulia. Bahkan, ia diibaratkan sebagai tiang negara yang akan menentukan baik buruknya suatu negara. Islam juga menjamin kesejahteraan perempuan, dengan mewajibkan seorang laki-laki (suami) untuk mencari nafkah. Kalaupun ternyata suami tidak mampu memenuhi nafkah bagi istrinya, maka kerabatnya wajib untuk membantu. Jika kerabatnya juga tidak mampu, maka negara wajib untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.
Namun faktanya, kondisi perempuan Indonesia saat ini masih jauh dari kata sejahtera. Bagaimana bisa dikatakan sejahtera, jika ternyata sebanyak 37 juta perempuan masih hidup dalam kemiskinan, sekitar 2,5 juta per tahun perempuan pergi meninggalkan keluarganya untuk menjadi tenaga kerja wanita (TKW). Belum lagi baru-baru ini telah ditemukan praktik penjualan TKW asal Indonesia, melalui selebaran provokatif bertuliskan “Indonesian maids now on sale” yang beredar di Malaysia. Kapitalisme benar-benar menjadikan perempuan sebagai barang dagangan.
Beberapa kalangan ingin mengangkat kembali posisi perempuan ini. Solusi yang ditawarkan pun beragam, salah satunya adalah ide kesetaraan gender. Akhirnya muncullah ide untuk menambah jumlah kuota perempuan dalam parlemen, yang tidak lain ditujukan sebagai wadah aspirasi bagi perempuan. Nyatanya, apakah dengan ditambahnya jumlah wakil rakyat dari kalangan perempuan tersebut lantas permasalahan perempuan terselesaikan? Tidak!
Tak hanya itu, para penganut kesetaraan gender kembali memberikan solusi atas permasalahan perempuan, dengan mendorong perempuan untuk berperan aktif di sektor publik. Perempuan diarahkan untuk bekerja dan tidak tergantung pada laki-laki (suami). Ketika perempuan telah bekerja, maka ia akan mampu mendapatkan penghasilan tambahan bagi keluarganya, sehingga kesejahteraan akan dicapai. Namun, benarkah dengan bekerjanya perempuan tersebut kesejahteraan tercapai? Ternyata tidak. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu terabaikannya keluarga.
Akibat kesibukan seorang perempuan (ibu) bekerja di sektor publik, akhirnya ia meninggalkan kewajiban terhadap anak dan keluarganya. Anak-anak pun kehilangan pendidik utamanya dan kasih sayang orang tua. Kontrol orang tua terhadap anak menjadi lemah, karena masing-masing sibuk dengan pekerjaannya. Maka tak heran jika akhirnya banyak anak yang terjebak pada pergaulan yang salah, seperti narkoba, seks bebas, tawuran, dan lain sebagainya. Jika hal ini terus dibiarkan, maka akan mengantarkan pada kerusakan generasi yang lebih parah.
Kembali ke Islam
Sebelum generasi penerus bangsa ini benar-benar hancur, mau tidak mau perempuan harus berbenah. Perempuan harus mampu menempatkan diri sebagai sosok mulia. Dalam Islam, orang yang paling mulia adalah orang yang bertakwa, yaitu menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Maka perempuan pun akan menjadi mulia jika ia menjalankan tugas utama yang diperintahkan oleh Allah, yaitu sebagai al-umm warabbatul bait. Saat belum menikah, ia mampu menjadi Muslimah shalihah. Ketika telah menikah, ia mampu menjadi istri shalihah. Dan jika telah menjadi ibu, maka ia mampu menjadi ibu pencetak generasi shalih dan shalihah.
Peran mulia inilah yang saat ini berusaha dijauhkan dari perempuan. Kapitalisme telah menjadikan perempuan hanya sibuk bekerja di ranah publik dan melupakan tugas utamanya di dalam rumah tangga. Dalam kondisi ini, maka kita harus mengembalikan peran utama perempuan, sehingga ia tak lagi terjerumus pada jurang kehancuran. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan perempuan dan generasi adalah dengan mencampakkan kapitalisme dan menerapkan Islam dalam naungan khilafah. Karena hanya dengan khilafah, perempuan akan sejahtera dan mulia. Insya Allah.[]

source: http://mediaumat.com/opini/4127-97-perempuan-sejahtera-dan-mulia-dengan-khilafah.html

title: [97] Perempuan Sejahtera dan Mulia dengan Khilafah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *