AS Pun Pernah Mencap Mandela sebagai Teroris

Pejuang anti-apartheid dan mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela.

Hidayatullah.com–Pada tahun 2008, tak lama sebelum Nelson Mandela merayakan ulang tahun ke-90, Amerika Serikat memberikan hadiah khusus padanya berupa dicabutnya ia dari daftar pengawasan teror selama berpuluh-puluh tahun, yang disebut para pejabat AS sebagai “masalah yang agak memalukan”.
Pada saat itu, tokoh anti-pembedaan etnis tersebut telah sekian lama meninggalkan penjara tempat ia menjalani tahanan selama 27 tahun. Ia pun sudah menikmati masa pensiun dan menyandang status sebagai salah satu negarawan paling dihormati di abad ke-20 setelah menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan.
Pada Kamis (5/12/2013), ketika Mandela wafat dalam usia 95 tahun, Presiden Barack Obama memberikan pujian terhadapnya dan memerintahkan agar semua bendera AS di gedung pemerintahan dikibarkan.
Pengibaran bendera setengah tiang itu merupakan hal yang jarang dilakukan AS dalam menghormati pemimpin asing.
Namun, puluhan tahun lalu banyak pihak di Amerika yang tidak sepakat dengan pujian tinggi bagi Mandela dan Kongres Nasional Afrika (ANC) yang dipimpinnya.
ANC sebelumnya dinyatakan sebagai organisasi teroris, baik oleh Afrika Selatan maupun Amerika Serikat.
Kritikus sayap-kanan paling pedas melukiskannya sebagai seorang teroris yang tidak mau bertobat serta seorang simpatisan komunis.
Bahkan ada laporan yang mengatakan bahwa CIA telah membantu rekayasa penahanan Mandela pada tahun 1962 ketika seorang agen di dalam ANC memberikan informasi kepada para pejabat keamanan Afrika Selatan untuk melacaknya.
Namun demikian, pada tahun 1980-an, mendiang senator Demokrat AS Ted Kennedy menyusun undang-undang bersama senator Lowell Weicker yang akhirnya menjadi salah satu katalisator yang mengarah pada runtuhnya sistem pembedaan ras (apartheid).
Presiden Ronald Reagan berupaya untuk mengubur undang-undang anti-pembedaan ras tahun 1986 yang ditujukan untuk menerapkan sanksi ekonomi terhadap Afrika Selatan dengan menggunakan hak vetonya.
Reagan meyakini undang-undang itu hanya akan mengarah pada kekerasan yang lebih parah serta penindasan terhadap rakyat Afrika Selatan.
Namun untuk pertama kalinya dan hanya satu-satunya yang dilakukan pada abad tersebut, Kongres AS memberontak dan mengesampingkan veto Reagan menyangkut masalah kebijakan luar negeri.
Kongres tetap mengesahkan undang-undang yang menjatuhkan sanksi terhadap Pretoria, memutus penerbangan langsung, serta memotong bantuan penting.
Sejumlah pengamat melihat, pembebasan Mandela merupakan kebenaran yang tidak dapat dipungkiri menyangkut perkaranya dan memberikan pelajaran unik bagi Washington.
Dilaporkan Antara, hingga lima tahun lalu, Mandela dan beberapa anggota ANC masih berada dalam daftar pengawasan teror AS karena perjuangan bersenjata yang mereka lancarkan terhadap rezim apartheid.
Penyebutan itu berarti bahwa Departemen Luar Negeri AS harus mengeluarkan surat pengabaian untuk memasuki AS untuk tujuan menghadiri berbagai pertemuan seperti Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Mantan Menteri Luar Negeri AS Condoleeza Rice menganggap pengabaian itu sebagai tindakan yang “memalukan.”*

Source: http://www.hidayatullah.com/read/2013/12/06/7652/pun-pernah-mencap-mandela-sebagai-teroris.html

http://pesantrenmasyarakat.com/blog/as-pun-pernah-mencap-mandela-sebagai-teroris.html AS Pun Pernah Mencap Mandela sebagai Teroris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *