Bachtiar Nasir, Konsolidasi Garut dan Persatuan Umat Bagian 1

Portal Dunia – Bachtiar Nasir, Konsolidasi Garut dan Persatuan Umat Bagian 1

Tabigh akbar Garut 11/11/2017 | foto: rep


MUSTANIR.COM — Beberapa bulan ini Indonesia ramai dengan aksi sweeping. Kali ini bukan sweeping tempat-tempat maksiat, warung remang-remang, toko miras dan tempat perjudian yang luput dari perhatian aparat keamanan, tapi justru yang disweeping adalah sejumlah muballigh yang mengisi pengajian. Pasalnya, sejumlah muballigh ini oleh kelompok tertentu dianggap anti pancasila dan anti NKRI. Karena itu, pengajiannya dianggap “membahayakan” negara. Benarkah?

Tuduhan anti pancasila dan anti NKRI sudah muncul sejak aksi 411 dan 212. Umat Islam yang menuntut ketegasan dan keadilan hukum terhadap Ahok “Tervonis Penistaan Agama” dianggap kelompok radikal dan anti NKRI. Para pimpinan dan tokoh penggerak demo sebagian ditetapkan sebagai tersangka.

Jika disadari, sebenarnya aksi itu tidak hanya ditujukan pada Ahok, tapi juga terutama kepada kekuatan yang berada di belakang -dan mem-back up Ahok. Kekuatan inilah yang memaksa tujuh juta Umat Islam datang ke Jakarta untuk memberikan pesan perlawanan.

Karena aksi 411 dan 212 dilakukan menjelang Pilgub DKI yang salah satu kandidatnya adalah Ahok selaku pejawat (incumbent), maka otomatis aksi ini berpengaruh secara politik. Soal tuduhan bahwa aksi ini telah dikapitalisasi secara politis oleh kelompok tertentu memang tidak bisa dipungkiri.

Dalam politik, semua peluang bisa dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk memenangkan pertarungan. Namun secara obyektif aksi 411 dan 212 bukanlah aksi politik, tapi lebih merupakan aksi untuk menuntut keadilan hukum atas penistaan agama oleh Ahok. Berlanjutnya kegiatan aksi pasca pilgub DKI hingga divonisnya hukuman penjara dua tahun bagi Ahok membuktikan kesimpulan tersebut.

Akibat kekalahan Ahok telah membawa sejumlah konsekuensi diantaranya adalah diberhentikannya proyek reklamasi, ditutupnya Alexis, dan adanya aksi perlawanan terhadap Meikarta. GNPF MUI sebagai operator aksi dianggap paling bertanggungjawab atas kekalahan Ahok ini. Karena itu, eksistensi mereka diberi “catatan” serta aktivitasnya terus dipantau dan diawasi.

Pilgub telah lama usai, rezim DKI pun berganti. Namun risiko aksi 411 dan 212 hingga hari ini masih dirasakan oleh sejumlah aktivis GNPF. Keadaan ini mendorong pimpinan GNPF, Bachtiar Nasir, melakukan konsolidasi untuk menentukan langkah-langkah strategis menghadapi situasi yang tidak kondusif tersebut.

Inisiasi silaturahmi sejumlah pimpinan GNPF pada hari lebaran lalu ke istana dipilih sebagai langkah yang dianggap strategis. Langkah ini meski terkesan “tidak populer” dan menyisakan kecurigaan, namun terbukti berhasil memberikan pesan ke publik bahwa antara penguasa dengan GNPF telah terjadi rekonsiliasi yang dibutuhkan oleh bangsa ini untuk merajut kembali suasana sosial-politik yang kondusif setelah sebelumnya kusut dan mengalami ketegangan.

Hal ini efektif juga untuk meredam sejumlah pihak yang ingin balas dendam kepada GNPF akibat kekalahan di Pilgub DKI. Silaturahim ini sekaligus mengubur tuduhan bahwa GNPF MUI anti pancasila dan anti NKRI.

Kesan anti NKRI ini berangsur menghilang ketika Bachtiar Nasir dalam roadshownya ke berbagai wilayah untuk tujuan konsolidasi dengan para eksponen 411 dan 212 menggeser tema-tema pidatonya dari agama an sich ke tema-tema persaudaraan dan persatuan, nasionalisme serta problem kebangsaan. Pergeseran ke tiga tema ini seperti ingin menegaskan bahwa GNPF MUI ini berjuang untuk NKRI, bukan sebaliknya.

Roadshow yang dilakukan pimpinan GNPF ini rupanya telah membuat kehawatiran pihak-pihak tertentu. Rencana sweeping pengajian di Garut Jawa Barat beberapa hari lalu adalah bentuk nyata adanya kekhawatiran tersebut. Jika sebelumnya, mereka berhasil membubarkan pengajian Felix Siau di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tidak demikian dengan pengajian Bachtiar Nasir.

Rencana pembubaran pengajian di Garut batal setelah tokoh yang akrab dipanggil UBN ini berhasil menunjukkan kekuatan massanya. Kehadiran massa dari berbagai ormas dan wilayah di acara tersebut menunjukkan bahwa tokoh yang satu ini memiliki basis massa yang terkonsolidasi dengan rapi, selain kekuatan jaringan dan kedekatannya dengan tokoh-tokoh penting di negeri ini. (republika.co.id/13/11/2017)

Selengkapnya: Bachtiar Nasir, Konsolidasi Garut dan Persatuan Umat Bagian 2

Share Button
Share This :

Bachtiar Nasir, Konsolidasi Garut dan Persatuan Umat Bagian 1 Sumber: Mustanir Media Islam/Portal Dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *