Gereja, Sejarah Kalender Masehi dan Tahun Baru Hijriyah (2)

Ilustrasi: Paus Gregorius XIII merayakan pengenalan kalender Gregorian

Lanjutan ARTIKEL Pertama
Oleh: Abby Fadhillah Yahya
Kebenaran Hijriyah
Pada masa kini, manusia pada umumnya (khususnya kaum Muslim) lebih sering menggunakan kalender Masehi daripada kalender Hijriyah. Padahal, ini mempunyai dampak terhadap ibadah umat Muslim seperti pada puasa, hari raya, dan shalat.
Sebagai contoh, jika kita mengacu pada kalender Masehi,maka shalat Isya yang dilaksanakan pada tengah malam atau pada pukul 00.00 maka apakah masih sah shalat yang kita tunaikan? Karena dalam Islam, permulaan waktu terletak pada waktu terletak pada waktu terbenamnya matahari. Sedangkan, dalam kalender Masehi, permulaan waktu terletak pada pukul 00.00. Jadi, jika kita shalat Isya hari Rabu pukul 00.00 berarti bukannya kita sudah masuk hari Kamis? Ini harus menjadi pelajaran bagi umat Muslim secara keseluruhan.
Hijriyah adalah penanggalan perdana dalam sejarah hidup umat manusia, bukan hanya umat Muslim saja. Alkisah, ketika itu umat Muslimin belum mengetahui tentang ihwal penetapan tahun. Ketika zaman kekhalifahan, Abu Musa Al-Asyari menulis surat kepada amirul mu’minin yang tidak ada tanggal dan tahunnya sehingga membingungkan. Lalu Umar ketika itu mengumpulkan para sahabat-sahabat senior untuk bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah, ada yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Rasulullah menjadi Rasul, dan ada yang mengusulkan berdasarkan momentum hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Maka diputuskanlah berdasarkan momentum hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah sebagai awal penetapan kalender Islam.
Tahun qamariyah atau lunar year adalah tahun yang lebih panjang dikarenakan orbit bukan berbentuk lingkaran bundar, elips, ataupun lonjong. Karena bentuk lingkaran begini akan menimbulkan kekacauan dan susah untuk diramalkan. Orbit demikian tidak mungkin terjadi dalam tarik menariknya tata surya dengan bumi. Karena bumi berada pada titik perihelion atau terdekat dengan matahari dia harus membelokkan arah layangnya ke kiri beberapa derajat mengitari surya yang didekati. Orbit tatasurya berbentuk oval. Dengan orbit oval terbentuklah daya layang berkelanjutan dan aktivitas sunspots yang berubah sepanjang tahun untuk mewujudkan perubahan cuaca di muka bumi.
Itulah salah satu tanda yang telah Allah Subhanahu Wata’ala jelaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 189:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوْاْ الْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُواْ الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal (bulan), katakanlah “ia adalah penentu waktu bagi manusia dan haji. Dan tiada kebaikan bahwa kamu mendatangi rumah-rumah (penanggalan)dari belakangnya, tetapi kebaikan itu ialah ia yang menginsyafi. Datangilah rumah-rumah pada pintunya. Insyaflah pada Allah semoga kamu menang.”
Hal ini juga tertera dalam firman Allah surat At-taubah ayat 37
إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُواْ يُحِلِّونَهُ عَاماً وَيُحَرِّمُونَهُ عَاماً لِّيُوَاطِؤُواْ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللّهُ فَيُحِلُّواْ مَا حَرَّمَ اللّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Artinya: “Sesungguhnya pengunduran (bulan haram) itu hanya menambah kekafiran. Orang-orang kafir disesatkan dengan (pengunduran) itu, mereka menghalalkannya suatu tahun dan mengharamkannya pada suatu tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang diharamkan Allah, sekaligus mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Dijadikan terasa indah bagi perbuatan-perbuatan buruk mereka. Dan Allah tidak memberi petujuk kepada orang-orang yang kafir.”
Kalender Hijriyah layak mendapatkan perhatian lebih karena ia tidak terikat dengan pergantian musim. Salah satu dampak positifnya bagi umat Islam dalam kalender ini adalah saat menjalankan syariat. Beberapa di antaranya yang terikat dengan penanggalan ini adalah masalah puasa dan haji.
Semoga hari-hari ke depan kita bisa memulai dan membiasakan diri menggunakan warisan Islam, berupa kalender Hijriyah. Wallahu a’lam bish-shawab.*
Mahasiswa IAIN sunan ampel, Surabaya

Source: http://www.hidayatullah.com/read/2013/11/08/7200/gereja-sejarah-kalender-masehi-dan-tahun-baru-hijriyah-2.html

http://pesantrenmasyarakat.com/blog/gereja-sejarah-kalender-masehi-dan-tahun-baru-hijriyah-2.html Gereja, Sejarah Kalender Masehi dan Tahun Baru Hijriyah (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *