Interaksi Guru-Murid Cegah Anak Alami Penyimpangan Seksual

Pimpinan Arrahman Quranic Learning Islamic Center (AQLIC) Ustad Bahtiar Nasir

Hidayatullah.com–Peranan guru tidak hanya sebatas penyampaian mata pelajaran. Lebih dari itu, seorang pendidik berpengaruh besar dalam meletakkan pondasi moral dan akhlak. Bahkan peranannya mampu menekan potensi penyimpangan seksual anak didiknya.
Hal itu diungkapkan oleh Ustad Bachtiar Nasir (UBN) saat ceramah paska sholat Shubuh, Ahad, 3 November 2013 di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Menurut Pimpinan Arrahman Quranic Learning Islamic Center (AQLIC) ini, pernyataannya bukan tanpa dasar. Berdasarkan data yang diperolehnya dari Kementrian Agama, lebih dari 60 persen kasus perceraian di KUA adalah khulu. Khulu adalah permintaan gugatan cerai dari pihak isteri.
“Bu, Pak. Ternyata anak-anak yang menjadi Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT), ketika kecilnya selalu dibilangin sama ibunya kalau ayahnya jahat. Nanti kalau pilih suami jangan seperti ayah, ya,” ujar Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) itu memberikan ilustrasi di depan ratusan guru Perguruan Islam al Azhar se-Jabodetabek dan Cianjur yang ikut melakukan sholat shubuh berjamaah.
Pengaruh pola hubungan komunikasi
UBN memberikan keterhubungan fakta efek keretakan rumah tangga terhadap kejiwaan anak. Menurutnya, pola komunikasi yang tidak baik dengan orangtua akan berdampak besar bagi anak.
Kesibukan orangtua seringkali menyebabkan intensitas pertemuan dengan sang anak menurun. Saat komunikasi merenggang, anak merasakan kasih sayang pada dirinya berkurang.
Bachtiar menganggap masyarakat perlu mencermati efek psikologi yang ditimbulkan dan segera menanganinya dengan serius. Ia mengungkapkan, banyak anak-anak usia sekolah yang merindukan kasih sayang seorang ayah.
Anak-anak yang merindukan kasih sayang ayahnya, disebut Bachtiar sebagai anak-anak “lapar ayah”. Potret anak-anak semacam itu terlihat dari “kicauan” para remaja di jejaring media sosial.
Follower saya ada yang masih sekolah. Mereka berkomentar dan terkadang curhat lewat twitter ataupun Facebook,”ungkap pria yang kerap dipanggil Abi Bachtiar ini.
Tidak hanya berupa “colekan” di twitter saja. Dewan Juri Hafidz Indonesia di RCTI itu kerap mendapat pesan singkat (SMS) yang berisi curahan hati dari “pengikut” yang masih berusia belasan tahun itu.
“Assalamu’alaykum, Abi. Saya mau ujian semester. Tolong doakan saya,” begitu salah satu isi pesannya.
Bahkan, di antara mereka ada yang berandai-andai menjadikan UBN sebagai bapaknya dengan mengirimkan pesan, ”Andaikan bapak saya seperti Abi Bachtiar.”
Kalimat-kalimat tersebut dinilainya merupakan gambaran kerinduan hati para remaja terhadap sosok seorang ayah.
Prihatin dengan hal tersebut, Pimpinan Lembaga Tadabbur Al-Qur’an Indonesia itu berdiskusi dengan temannya yang merupakan pakar parenting. Dalam diskusi itu terkuak bahwa kurangnya kasih sayang orangtua menjadi penyebab pencarian figur seorang ayah di luar rumah.
“Untung mereka curhat sama Ustadz. Coba kalau mereka ketemu pedhofil, habis mereka,”ungkap Bachtiar mengulangi apa yang dikatakan temannya.
Pedhofil adalah orang yang memiliki disorientasi seksual dengan menjadikan anak di bawah umur sebagai objeknya di mana mereka kerap mengincar targetnya melalui jejaring media sosial.
Karena itu ia berharap para pendidik, khususnya guru bisa menjadikan interaksi dengan murid di kelas sebagai celah untuk menyelami kejiwaan anak-anak didik.
“Para guru laki-laki seharusnya mengajarkan pada murid pria-nya tentang makhluk yang namanya perempuan. Begitu juga dengan guru-guru perempuan. Mereka bisa mengajarkan murid-murid perempuannya tentang makhluk misterius yang bernama laki-laki,”ucapnya.
Dengan pemahaman yang benar sesuai dengan syariat Islam, maka penyimpangan seksual bisa ditekan secara baik.*

Source: http://www.hidayatullah.com/read/2013/11/04/7138/interaksi-guru-murid-cegah-anak-alami-penyimpangan-seksual.html

http://pesantrenmasyarakat.com/blog/interaksi-guru-murid-cegah-anak-alami-penyimpangan-seksual.html Interaksi Guru-Murid Cegah Anak Alami Penyimpangan Seksual

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *