Masruq bin Al-Ajda’: Ulama dan Hakim yang Tak Mengambil Upahnya

ilustrasi
”Masruq tidak mengambil upah atas jabatannya sebagai qadhi’ (hakim)”

Oleh: Iltizam Amrullah
ADALAH Masruq bin Al-Ajda’ Al-Hamdani Al-Wadi’i Abu Aisyah Al-Kufi. Dialah Masruq bin Al-Ajda’ bin Malik bin Umayyah bin Abdullah bin Murii bin Salman, selain itu ada juga yang mengatakan Salaman bin Muammar bin Al-Harits bin Sa’ad bin Abdullah bin Wadi’ah.
Al-Hafizh Abu Bakar Al-Khatib berkata, di waktu kecil ada yang mengatakan beliau (Masruq bin Al-Ajda’) pernah hilang diculik, kemudian ditemukan lagi sehingga diberikan nama Masruq yang berarti dicuri, setelah hal itu ayahnya Al-Ajda’ masuk Islam
Beliau adalah salah seorang tokoh tabi’in, salah seorang imam yang beramal. Dia berguru kepada para ulama dari kalangan sahabat: Abdullah bin Mas’ud, Ali bin Abi Tholib dan Aisyah binti Abu bakar -rodhiyalloh ‘anhum-. Dia adalah seorang yang memiliki sifat zuhud, wara’ dan gemar beribadah.
Ke-wara’annya diakui para ulama-ulama. Malik bin Mighwal, beliau mengatakan bahwa Abu As-Safar tidak hanya sekali mengatakan, “Seorang wanita Hamdaniyah tidak pernah melahirkan orang seperti Masruq.”
Ibnul Madini juga mengatakan, “Aku tidak mendahulukan seorang pun yang pernah sholat di belakang Abu Bakar dibandingkan Masruq.”
Sementara Amir Asy-Sya’bi mengatakan, “Aku tidak mengetahui ada seorang pun yang lebih giat dalam menuntut ilmu di suatu penjuru dari pada Masruq.”
Abu Nu’aim mengatakan, “Di antara mereka ada yang ‘alim mengenai Robb-nya, larut dalam kecintaan kepadaNya, selalu mengingat dosanya, dikenal dalam keilmuan, dipercaya menjaga amanat dan rindu untuk beribadah kepada Allah, dia lah Abu Aisyah yang bernama Masruq.”
Ibadah Masruq
Anas bin Sirrin menuturkan bahwa istri Masruq pernah mengatakan, “Masruq pernah shalat hingga kedua telapak kakinya bengkak. Terkadang aku duduk di belakangnya sambil menangis karena melihat apa yang diperbuatnya terhadap dirinya.”
Asy-Sya’bi mengatakan, “Masruq jatuh pingsan pada hari yang sangat panas, sedangkan dia berpuasa saat itu. Dia mempunyai anak yang bernama Aisyah. Dia tidak pernah menolak permintaan putrinya sedikit pun. Lalu putrinya datang kepadanya seraya berkata, ‘Wahai ayah, makan dan minumlah.’ Dia berkata, ‘Apa yang Engkau inginkan dariku, wahai putriku?’ Putrinya menjawab, ‘Belas kasih.’ Dia mengatakan, ‘Wahai putriku, sesungguhnya Aku hanyalah mencari belas kasih untuk dirikupada hari yang kadarnya adalah 50.000 tahun.’.”
Pendirian Masruq Saat Terjadi Fitnah
Asy-Sya’bi mengatakan, “Jika dikatakan kepada Masruq, ‘Engkau berlambat dari Ali dan dari peperangan yang dilakukannya’, maka dia mendesak pembicaraan meraka dengan mengatakan, ‘Aku ingatkan kalian kepada Allah. Tahukah kalian, ketika sebagian dari kalian berbaris untuk menghadapi sebagian yang lain, dan sebagian dari kalian mengambil senjata untuk sebgaian yan lain, lalu sebagian dari kalian membunuh sebagian yang lain, maka pintu langit dibuka, sementara kalian melihat. Kemudian seorang malaikat turun darinya, hingga ketika dia telah berada di antara dua barisan, dia mengatakan, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [QS. an-Nisa’ (4) : 29]Apakah itu menjadi penghalang kalian satu sama lain?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Dia mengatakan, ‘Demi Allah, sungguh Allah telah membukakan pintu langit untuknya, dan sungguh seorang malaikat mulia turun dengan membawanya lewat lisan Nabi kalian. Sesungguhnya ayat ini benar-benar muhkamah dalam mushaf, yang tidak dihapuskan oleh satu apa pun’.”
Ibrahim bin Muhammad Al-Muntasyir berkata dari ayahnya, ”Masruq tidak mengambil upah atas jabatannya sebagai qadhi’ (hakim), dan dia menakwilkan ayat ini:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” [QS. At-Taubah (9) : 111]Hamzah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud mengatakan “Aku mendapatkan kabar bahwa Masruq memegang tanan keponakannya, lalu membawanya naik ke tempat pembuangan sampah di Kufah seraya mengatakan, ‘Maukah aku perlihatkan dunia kepada kalian? Inilah dunia. Mereka memakannya lalu habis, mereka memakainya lalu usang dan mereka menungganginya lalu lemah. Mereka menumpahkan darah mereka kerenanya dan memutuskan kaum kerabat mereka karenanya’.”
Dia adalah teladan yang baik. Semoga Allah menerima semua ketaatan kita dan mengumpulkan kita bersama para ulama kita yang mulia di derajat yang tertinggi.*
Penulis sedang belajar di LIPIA

Source: http://www.hidayatullah.com/read/2013/11/29/7539/masruq-bin-al-ajda%E2%80%99-ulama-dan-hakim-yang-tak-mengambil-upahnya.html

http://pesantrenmasyarakat.com/blog/masruq-bin-al-ajda-ulama-dan-hakim-yang-tak-mengambil-upahnya.html Masruq bin Al-Ajda’: Ulama dan Hakim yang Tak Mengambil Upahnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *