“Pak Jokowi.., Anda Telah Menggali Kuburan Sendiri”

Portal Dunia – “Pak Jokowi.., Anda Telah Menggali Kuburan Sendiri”

Oleh: Fahru Rozy (@rozyArkom)

Sejarawan Yunani, Herodotus (484–425 SM), dalam bukunya, Histories, pernah menulis: Ipsa Historia Repetitum, (diadaptasi ke dalam bahasa Inggris: History Repeats Itself). Jika diterjemahkan secara bebas, frasa tersebut berarti ‘sejarah pasti berulang’. Konsep yang oleh Ibnu Khaldun (1332–1406) disebut sebagai “Siklus Sejarah”.

+++

15 Agustus 1960, Presiden Soekarno menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) No.200/1960 yang isinya membubarkan Partai Islam Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Prosedur pembubaran yang terbilang sadis: jika dalam tempo 100 hari kedua partai tidak membubarkan diri, maka partai itu akan dinyatakan sebagai partai terlarang. Ketua Umum Masyumi Prawoto Mangkusasmito menyebut Keppres tersebut ibarat vonis mati, dimana eksekusinya dilakukan si terhukum sendiri. (Prof. Yusril Ihza Mahendra: 2008)

Apa yang ada di kepala orang Masyumi waktu itu ialah Soekarno mulai menjadi diktator dan negara makin bergerak ke arah kiri. Faktanya terbukti, sejarah menunjukan setelah pembubaran Masyumi, kekuatan PKI semakin besar dan sukar dibendung. Pada akhirnya berujung pemberontakan 30 September 1965.

7 tahun setelah membredel partai politik, Soekarno dilengserkan dari kekuasaan. Bagaimana nasib Masyumi? Walau secara keorganisasian telah dibubarkan, nyatanya ide dan pandangannya tetap ‘hidup’ bahkan berenkarnasi sampai sekarang.

21 Juni 1994, sejarah pembredelan kembali terulang ketika majalah Tempo, tabloid Detik dan majalah Editor dicabut izinnya oleh Menteri Penerangan Harmoko atas perintah Presiden Soeharto. Alasan pembredelan karena ketiga media kala itu gencar mengungkap dan memberitakan berbagai kasus korupsi dan penyimpangan pemerintah.

Salah satu ulasan Tempo yang kabarnya membuat Soeharto naik pitam adalah liputan kasus korupsi pembelian 36 Kapal Perang bekas dari Jerman Timur. Menurut laporan Tempo, ketika negosiasi awal Soeharto kala itu mengutus Menteri Negara Riset dan Teknologi, BJ. Habibie. Disepakatilah harga US$ 12,7 juta. Namun entah bagaimana, Departemen Keuangan (Depkeu) justru membayar US$ 1,1 milyar. Terdapat mark-up sampai 62x lipat. (Janet Steele: 2011)

4 tahun kemudian Soeharto “lengser ke prabon”. Bagaimana nasib Tempo? Walau sempat dibredel nyatanya tetap hidup sampai sekarang. Yah, walaupun kekinian “play victim”, dulunya korban pembredelan sekarang malah mendukung pembredelan.

10 Juli 2017, Presiden Joko Widodo seperti mengulang sejarah kelam pembredelan, dengan menerbitkan Perpu No.2/2017 yang isinya diantaranya menghapus kewenangan pengadilan untuk memutus mana Ormas melanggar mana tidak (Pasal 60). Pemerintah secara otoriter juga bisa membubarkan ormas mana saja dan memenjarakan seluruh anggotanya (pasal 82A).

Peraturan super sadis yang mana penjajah Belanda sekalipun tidak pernah melakukan hal serupa. Bayangkan jika suatu saat nanti misalkan pemerintah tidak suka pada NU, maka dengan instrumen pasal karet dalam Perpu tersebut, pemerintah bisa membubarkan NU tanpa perlu putusan pengadilan. Juga bisa memenjarakan seluruh warga (jamaah) NU yang kabarnya berjumlah 88 juta. Jelas, yang pemerintah lakukan itu jahat.

Dengan dalih anti Pancasila, alasan yang sejatinya mengada-ada, pemerintah bisa menuduh ormas mana saja dan siapa saja, untuk dibubarkan dan dipenjara. Saat ini yang dibidik adalah ormas Islam (HTI, FPI, Hidayatullah, dll) yang tidak pernah sekalipun menyatakan anti Pancasila, namun oleh pemerintah dituduh dan dizalimi. Ini adalah bukti nyata penyelewengan kekuasaan (abuse of power).

Pelan tapi pasti, Jokowi sedang mengulang ‘kesalahan’ pendahulunya. Sadar atau tidak, Jokowi ibarat menggali kuburan sendiri.

+++

Ingatlah pak Jokowi, “Ipsa Historia Repetitum”. Sejarah pasti berulang. Jangan menzalimi rakyat. Atau anda bisa jadi bernasib seperti pendahulu anda; dilengserkan kemudian ‘dibuang’.

Saya khawatir, jika pembredelan dan pembrangusan Ormas (Islam) tetap dipaksakan, bisa terjadi “siklus kejatuhan”, chaos untuk ketiga kalinya.  Soekarno terjatuh 2 tahun setelah PKI yang diakui negara melakukan pemberontakan. Soeharto terjungkal 1 tahun pasca krisis ekonomi. Jokowi selang berapa tahun lagi?

Semua ada masanya, sunnatullah. Ada saat naik ada saat turun. Namun perbedaanya; turun secara terhormat atau jatuh terperosok hina-dina.

Lantas, bagaimana selanjutnya? Ingin terus berkubang dalam siklus kejatuhan tiada akhir, atau bolehkah memberikan kesempatan pada sistem Islam? Sistem yang Rahmatan Lil ‘Alaamin. [fr]

“Pak Jokowi.., Anda Telah Menggali Kuburan Sendiri” Sumber: Media Umat – Memperjuangkan Kehidupan Islam/Portal Dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *