PERTI: Fatwa MUI Aspirasi Umat Islam Indonesia, Peringatan Asyuro Bisa Picu Konflik

Sebuah spanduk penolakan peringatan Asyuro di Bandung, Jawa Barat

Hidayatullah.com – Ketua Umum DPP Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) Tengku Mohammad Faisal Amin, meminta kepada penganut aliran Syiah di Indonesia agar menjaga perasaan mayoritas penduduk Indonesia yang Sunni atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Ia pun berharap upacara peringatan Hari Asyuro yang diagendakan digelar agar jangan sampai memunculkan potensi konflik horizontal. Sebab, tegas dia, Indonesia bukanlah tempatnya Syiah.
Menyinggung soal fatwa tentang Syiah yang dikeluarkan MUI Jawa Timur 2012 silam, Tengku Faizal mengatakan Majelis Ulama Indonesia merupakan perwakilan umat Islam di Indonesia. Sehingga keputusan MUI adalah keputusan yang membawa aspirasi daripada umat Islam.
“Jadi secara otomatis keputusan sesat Syiah itu juga menjadi keputusan bulat umat Islam Indonesia,” ujarnya dalam perbincangan dengan hidayatullah.com , Rabu (13/11/2013).
Oleh karena itu, Tengku mengatakan Perti sebagai komponen bangsa mendesak pemerintah untuk senantiasa mengawal aspirasi mayoritas penduduk Indonesia itu.
Bangsa Indonesia adalah negara yang Berketuhanan Yang Maha Esa. Bangsa ini juga, terang dia, adalah bangsa yang beragama, beradab, beradat, sopan dan santun, berbudi bahasa, dan saling menghormati.
Oleh karena itu, jelasnya, urusan urusan agama diserahkan kepada yang berkompetensi di bidang agama. Untuk umat Islam Indonesia, berarti kepada MUI, ucapnya.
“Kita tidak menginginkan sesuatu yang datang dari luar ini mendatangkan malapetaka dan ketidakharmonisan antar sesama kita,” pungkas tokoh Aceh yang juga anggota DPR RI ini.
Sebelum ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat telah mengeluarkan buku panduan berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia.”
Buku yang disusun oleh Tim Penulis MUI Pusat yang terdiri dari Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin (Ketua MUI Pusat), Prof. Dr. Yunahar Ilyas (Wakil Ketua MUI Pusat), Drs. H. Ichwan Sam (Sekjend MUI Pusat) dan Dr. Amirsyah (Wakil Sekjend MUI Pusat) dengan pelaksana dari Tim Khusus Komisi Fatwa dan Komisi Pengkajian MUI Pusat yang terdiri dari, Prof. Dr. Utang Ranuwijaya, Dr. KH. Cholil Nafis, Fahmi Salim, MA., Drs. Muh. Ziyad, MA., M. Buchori Muslim, Ridha Basalamah, Prof. Dr. H Hasanuddin AF, Dr. H. Asrorun Ni’am Sholeh, MA., Dr. H. Maulana Hasanuddin dan Drs. H. Muh. Faiz, MA.
Sekadar diketahui, Hari Asyura adalah hari ke-10 pada bulan Muharram dalam kalender Islam. Hari Asyura selalu diperingati oleh umat Syiah karena anggapan Asyura merupakan hari berkabung atas meninggalnya Husain bin Ali, cucu dari Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.
Sebelumnya, beberapa elemen Islam menolak acara Asyuro yang rencananya akan diadakan kalangan Syiah pada hari Kamis 14 November 2013 Pukul ; 12.30-16.30 WIB di Balai Samudera, Jl. Boulevard Barat No. 1, Kelapa Gading Jakarta Utara.*

Source: http://www.hidayatullah.com/read/2013/11/13/7275/perti-fatwa-mui-aspirasi-umat-islam-indonesia-peringatan-asyuro-bisa-picu

http://pesantrenmasyarakat.com/blog/perti-fatwa-mui-aspirasi-umat-islam-indonesia-peringatan-asyuro-bisa-picu-konflik.html PERTI: Fatwa MUI Aspirasi Umat Islam Indonesia, Peringatan Asyuro Bisa Picu Konflik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *