Si Pengemis yang Menyindir

tribunnews
Pengemis kaya yang tertangkap razia dengan uang puluhan juta

Oleh: Muhaimin Iqbal
MASYARAKAT Jakarta hari-hari ini dihebohkan oleh berita tertangkapnya seorang pengemis dengan uang tunai Rp 25,448,000. Menurut Kasi Rehabilitasi Sudin Sosial Jakarta Selatan, uang ini adalah hasil mengemis selama 15 hari. Artinya si pengemis ini memiliki penghasilan hampir Rp 1.7 juta per hari atau lebih dari Rp 50 juta sebulan – bebas pajak pula. Ini kurang lebih setara dengan penghasilan manager atau bahkan general manager perusahaan-perusahaan menengah atas di Jakarta!
Bila orang bekerja hanya untuk mengejar uang, maka si pengemis inipun dengan mudah mengalahkan rata-rata pekerja dalam hasilnya – bahkan menyamai atau melebihi gaji para manajer, penghasilan dia malah lebih dari 23 kali UMR – DKI tahun 2013 ini.
Lantas apakah kita lebih baik rame-rame mengemis saja kalau begitu? Tentu tidak. Mengemis atau meminta-minta adalah sangat dilarang dalam Islam. Terhinakan di dunia dan juga di akhirat : “Terus-menerus seseorang itu suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari kiamat dia datang dalam keadaan di wajahnya tidak ada sepotong dagingpun.” (HR: Al-Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1725).
Yang diperintahkan kepada kita adalah sebaliknya, yaitu kita diperintahkan untuk bersedekah dan untuk bisa bersedekah ini kita harus bekerja.
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Wajib bagi setiap muslim bersedekah”. Mereka (para sahabat) bertanya : “Wahai Nabi Allah, bagaimana kalau ada yang tidak sanggup ?”. beliau menjawab : “Dia bekerja dengan tangannya sehingga bermanfaat bagi dirinya lalu dia bersedekah”. Mereka bertanya lagi : “Bagaimana kalau tidak sanggup ?.” Beliau menjawab : ”Dia membantu orang yang sangat memerlukan bantuan.” Mereka bertanya lagi: “Bagaimana kalau tidak sanggup lagi?.” Beliau menjawab: “Hendaklah dia berbuat kebaikan (ma’ruf) dan menahan diri dari keburukan karena yang demikian itu berarti sedekah baginya”.” (HR. Bukhari no. 1353 dan Muslim no. 1676).
Mulianya bekerja bahkan disamakan dengan berjuang di jalan Allah bila diniatkan dengan benar. Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang duduk-duduk bersama dengan sejumlah sahabat. Di hari yang masih pagi itu, ada seorang pemuda berbadan kekar gagah perkasa melintas di hadapan mereka. Melihat pemandangan demikian para sahabat spontan berkomentar: “Sayang sekali pemuda itu, alangkah hebatnya jika pemuda berbadan tegap begitu dia manfaatkan untuk berjuang di jalan Allah”. Mendengar gumam para sahabat seperti itu, Rasulullah langsung menegur dan menasehati mereka dengan sabdanya:
“Jangan kalian bicara begitu! Dia itu, jika bekerja untuk mencukupi diri sendiri agar tidak meminta-minta kepada orang lain, berarti ia berjuang di jalan Allah. Jika dia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang telah tua, atau mencukupi kerabat yang lemah, dia itu sama dengan berjuang di jalan Allah. Tetapi kalau dia itu bekerja untuk berbangga-bangga dan untuk menumpuk harta, dia itu ada di jalan setan.” (HR. At-Thabrani).
Jadi bekerja untuk diri sendiri – agar tidak menjadi beban orang lain, untuk keluarga dan kerabat-pun bisa bernilai berjuang di Jalan Allah – yaitu bila tidak dimaksudkan untuk berbangga-bangga dan menumpuk harta.
Lebih dari itu , bekerja juga adalah ibadah kerena sesungguhnya kita diciptakan oleh Allah hanya untuk menyembah kepadaNya – jadi seluruh aktifitas hidup kita harus dalam konteks ibadah ini.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS: Adz-Dzaariya [51]:56).
Karena kedudukannya sebagai ibadah ini, maka ultimate objective dari pekerjaan kita haruslah mencari ridloNya semata. Jadi pertanyaan bagi setiap pekerja terhadap pekerjaannya seharusnya bukan “ berapa banyak saya akan mendapatkan upah untuk pekerjaan ini ?”; tetapi: “Allah ridlo nggak ya dengan pekerjaan saya ini ?”.
Pekerja yang hanya mengejar yang pertama (upah), kemudian untuk memperoleh target penghasilannya dia menghalalkan cara dengan korupsi, memakan riba, memeras, mendhalimi orang lain, mengambil yang bukan haknya – maka mereka-mereka ini bisa lebih hina dari pengemis tersebut di atas.
Pengemis meskipun sangat dilarang, tetapi pengemis umumnya menerima uang dari orang yang memberinya secara sukarela – tanpa paksaan. Lha bagi para koruptor, pemeras, pemakan riba dan yang mengambil hak orang lain – mereka pada umumnya memperoleh hartanya tanpa keridlaan orang yang diambil hartanya tersebut – tidak ada rakyat yang rela bila hasil jerih payahnya dikorupsi oleh segelintir elit untuk kepentingan mereka sendiri.
Walhasil, agar kita tidak terjerumus pada pekerjaan yang bahkan lebih rendah dari pekerjaan pengemis tersebut di atas – kita memang perlu sering-sering berintrospeksi dengan melontarkan pertanyaan kepada diri kita sendiri, pertanyaan yang terkait dengan apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita ini – yaitu pertanyaan : “Allah ridlo nggak ya dengan apa yang saya lakukan ini, dalam pekerjaan saya ini ? dst”.
Bila Allah ridlo, maka tidak ada lagi yang kita perlukan selain ini. Yang sedikit menjadi cukup, yang banyak menjadi tambahan berkah. Sebaliknya bila Allah tidak ridlo, yang sedikit semakin tidak cukup – yang banyak menjadi semakin serakah.
Maka berita tentang pengemis yang kaya tersebut di atas, menjadi sindiran untuk kita semua – agar setidaknya kita semua bertanya kepada diri kita sendiri; “ Allah ridlo nggak ya dengan pekerjaan saya ini ?”. InsyaAllah.*
Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Source: http://www.hidayatullah.com/read/2013/12/02/7587/si-pengemis-yang-menyindir.html

http://pesantrenmasyarakat.com/blog/si-pengemis-yang-menyindir.html Si Pengemis yang Menyindir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *