Teladan di tengah Badai

Oleh: Muhammad Ihsan
SETELAH peristiwa 11/9 yang menggemparkan dunia menjadi titik awal badai fitnah yang menerjang umat Islam di seluruh dunia. Perang melawan terorisme yang terus di kampanyekan Amerika dan sekutunya turut menghantam umat Islam Indonesia. Terorisme digambarkan oleh Amerika sebagai Islam militan yang menginginkan tegak nya syariat Islam. Halusinasi terorisme yang dipropagandakan Amerika sebagai sosok yang menyeramkan, pelaku bom bunuh diri, penebar teror, dll ternyata menjadi lelucon ketika Amerika justru menjadikan ulama sepuh yang santun menjadi target operasinya.
Siapa yang tidak mengenal Ustadz Abubakar Ba’asyir (ABB)? Tokoh Islam yang sudah sepuh dan terkenal tidak pernah kompromi terhadap kebatilan, namun dengan gaya retorika yang santun. Seperti yang digambarkan Prof. Deliar Noer mengenai sosok Ustadz Abu , “Ba’asyir ini orang yang tenang, tidak menggebu–gebu, dalam pidatonya tidak keras.”
Anehnya, Amerika menjadikan Ustadz Abu, demikian ia akrab dipanggil orang menjadi target propaganda ikon terorisme di Asia Tenggara.
Perjalanan panjang Sang Ustadz dari persidangan ke persidangan justru menjadi momentum umat Islam Indonesia untuk lebih mengenal sosoknya jauh lebih dekat.
Berbebagai peristiwa yang penuh dengan keteladan menjadikanya oase di tengah karakter bangsa yang telah lama mengering.
Kisah Rumah Numpang
Adalah mantan Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia, Fauzan al Anshari mengisahkan mengenai sosok Ustadz Abu yang ia kenal, sebagai berikut:
Dalam pandangan saya ketika itu, ustadz abu tidak berbeda dengan penampilan kebanyakan ulama sepuh: berbaju koko, bersongkok putih , dan sorban putih yang terus melekat di pundaknya yang juga biasa digunakan untuk sajadah ketika shalat, serta alas duduk bagi para tamunya yang mau lesehan. Persepsi saya mulai berubah mengunjungi ustadz Abu di kedaiamanya di Solo.
Tempatnya mirip sebuah bilik memanjang yang berdampingan dengan kantor pesantren Al mukmin Ngruki. Lebih tepat lagi, bilik itu berada di belakang kantor pondok. Maka, jika kita mau ke rumahnya harus melewati depan kantor pondok, lalu belok kanan memutar ke belakang, masuk gang sempit, baru nampaklah bilik tersebut.
Saya tertegun sejenak saat pertama kali menjejakkan kaki di halaman depan rumah berpintu cat hijau dan dinding putih itu. Nampak seperti ukuran rumah kontrakan di depok seharga Rp 150 ribu perbulan, yaitu sepetak halaman, sebuah ruang tamu ukuran 3×3 m, sebuah kamar dan dapur ukuran sama.
…………………………………………………….. karena penasaran, saya langsung bertanya, “ini rumah ustdaz?” saya pun tidak sabar ingin mendengar jawabannya. Dengan tegas Ustadz Abu katakan, “Bukan, ini milik pondok. Saya Cuma numpang.” (hal. xxi –xxiii)
Inilah rumah seorang Kiai yang dituduh teroris oleh Amerika. Hidup sederhana walaupun Pesantren Ngruki memiliki bangunan yang mentereng dan mungkin memiliki asset ratusan miliar rupiah. Pesantren yang terkenal sedunia karena dituduh menjadi sarang teroris, ternyata pendirinya tidak memiliki rumah!
Dermawan dalam Tahanan
Hidup dibalik jeruji besi ternyata tidak mengendurkan semangat Ustadz Abu untuk saling tolong menolong sesama muslim. Tampaknya iya yakin betul akan firman Allah pada Surat Ali-Imran: 133-136.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik… Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal.”
Fauzan al Anshari mengisahkan kisah ustadz Abu dengan seorang ikhwan yang istrinya baru saja operasi cesar.
“….Ketika istrinya dioperasi cesar, dia harus mencari tambahan dana ke mana-mana sehingga sejumlah kegiatan tidak bisa ia diikuti. Lantas ia membesuk Ustadz Abu di Mabes Polri dan menceritakan keadaanya tanpa bermaksud meminta bantuan materi dari ABB. Namun ikhwan tadi hanya memintadoa Ustadz Abu agar istrinya segera sembuh dan dapat kembali berkumpul di rumah bersama suami dan anak-anaknya.
Beberapa harikemudian ikhwan tadi diminta segera datang ke penjara Mabes Polri,karena ustadz ingin menyampaikan sesuatu. Ikhwan itu pun segera datang dan menerima sebuah amplop. Kata ustadz, dibukanya di luar saja. Ikhwan itu pun menuruti.
Setelah ikhwan tadi keluar, ia segera membuka amplop tadi. Isinya sebuah surat doa agar Allah SWT segera menyembuhkan istrinya sehingga dapat kembali berdakwah dan berjihad di jalan Allah. Selain berisi surat, ternyata di dalamnya ada sepuluh lembar uang seratus ribu, totalnya satu juta rupiah.” (hal.xxxv – xxxvi)
Dari mana ustadz Abu mendapatkan uang sebanyak itu? Sedangkan dirinya jauh lebih membutuhkan pertolongan. Ikhwan tersebut mencoba menyelidiki. Ternyata uang tersebut adalah infak dari para pembesuk beliau. Rupanya, Ustadz Abu masih mampu berbagi di tengah sempitnya hidup di dalam penjara.
Ketenangan dan kelapangan beliau hadir karena satu keyakinan, seperti apa yang Ustadz Abu sampaikan kepada wartawan SABILI saat berkunjung di RS Polri, Kramat, “Allah Sungguh telah menolong saya.”
Kisah di atas adalah sedikit dari banyak kisah perjalanan Ustadz Abu di dalam buku “Saya Difitnah: Hari-Hari Abu Bakar Ba’asyir di Penjara.” Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa istimewa yang bisa dijadikan teladan bagaimana menjadi seorang muslim yang teguh melawan kebathilan. Mungkin generasi muda saat ini memang tidak pernah bertemu M.Natsir yang terkenal sederhana, menolak mewahnya mobil pejabat, memakai jas yang rombeng dalam agenda kenegaraan, dll.
Atau sosok Buya Hamka yang terkenal pemaaf walau difitnah dan dipenjarakan penguasa. Juga begitu dengan Sosok H.Agus Salim yang dijuluki Kasman Singodimedjo, bahwa “Pemimpin adalah Menderita.” Tetapi generasi saat ini patut bangga masih memiliki tokoh yang bersahaja seperti Ustadz Abu. Walaupun banyak orang yang memfitnah dirinya, namun ia tetap bermunajat kepada Allah Subhanahu Wata’ala mendoakan kebaikan untuk orang yang mendzaliminya.
“Y Allah, ampunlah dosa dan kesalahan kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui akan hal ini, yaitu kezaliman terhadap syariat dan pejuang-pejuangnya.” (hal.108)

Buku : Saya Difitnah “ Hari-Hari Abu Bakar Ba’asyir di Penjara”

Penyusun : Fauzan al-Anshari

Penyunting : Hepi Andi Bastoni

Penerbit : Qalamas
Penulis adalah Pimred Penaaksi.com

Source: http://www.hidayatullah.com/read/2013/11/20/7388/teladan-di-tengah-badai.html

http://pesantrenmasyarakat.com/blog/teladan-di-tengah-badai.html Teladan di tengah Badai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *