Terorisme, seperti Cerita Seri “Api di Bukit Menoreh”

Hidayatullah.com–Terorisme tidak lebih dari sandiwara berseri yang tidak tahu kapan episodenya akan diselesaikan. Itulah tampaknya yang terungkap dari “Diskusi Terbuka Penanganan Tindak Pidana Terorisme dalam Perspektif Hak Asasi Manusia” di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (25/11/2013) kemarin.
Salah satu pembicara, Hanibal WY. Wijayanta, Produser Eksekutif ANTV menceritakan fakta di lapangan. Berdasarkan laporan para reporter-nya dan rekan media di lapangan, ada banyak kejanggalan terkait isu terorisme ini.
Penyerbuan sebuah rumah yang diperkirakan rumah yang dijadikan sarang teroris seperti Noordin M.Top di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya. Penyerbuan yang memakan waktu selama 18 jam itu jika diteliti lebih lanjut, menyisakan tanda tanya besar.
Diberitakan sebelum Detasemen Khusus Anti Teror (Densus) 88 saat itu diberitakan mendobrak pintu rumah dan terdengar dua kali tembakan. Kemudian suara ledakan keras. Posisi reporter ANTV saat itu berada di wilayah terdekat dengan rumah target operasi dibandingkan dengan wartawan media lainnya. Namun, menurut pengakuannya, dia tidak mendengar suara sama sekali.
Fakta lainnya, saat konferensi pers, Polri menyatakan tersangka Noordin M. Top hanya ditembak dengan satu peluru tepat mengenai jantung.
“Sedangkan jika dilihat dari videonya reporter, terlihat jelas sekali rupanya hancur,” ungkap Hanibal. Itu berarti lebih dari satu tembakkan dilesatkan.
Selain itu, berdasarkan laporan warga, dua hari sebelum penembakan, polisi menangkap dua orang.
“Saya tanya. Pak Susno, kami dengar ada dua orang ditangkap. Sekarang dua orang itu kemana?”tanya Hanibal pada Susno Duadji, Kabareskrim Polri waktu itu.
Jawaban Susno mengagetkan Hanibal. “Oh, itu buat nanti, dik.” Karena itu Hanibal meyakini sudah ada skenario yang dirancang.
Peristiwa yang berbau rekayasa itu makin dikuatkan dengan tanggapan salah satu perwira tentang bom buku di Utan Kayu, 2011, Jakarta.
“Dik, sebenarnya Satgas Anti bom buku sudah dibentuk beberapa minggu sebelum kejadian,” ucapnya. Hanibal menilai, petugas tersebut juga sudah malas dengan segala rekayasa.
Gelagat rekayasa tidak hanya itu. Ia mendapat laporan fakta yang mengarah terhadap perekayasaan di Solo, Jateng. Setelah dua minggu menunggu perkembangan berita, salah satu temannya yang bekerja di sebuah media di sana, merasa tidak ada berita “panas”.
Karena itulah ia berencana bepergian ke luar kota.
Keinginannya itu tertunda manakala salah seorang anggota Densus lokal di sana menahannya untuk tidak bepergian.
“Mas, ojo keluar disik. Nanti akan ada “acara”,” begitu Hanibal menirukan perkataan anggota Densus tersebut. Benar saja. Seminggu kemudian, 25 September 2011, pemberitaan tentang peristiwa peledakan Bom Gereja Betel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, mencuat.
Hanibal menghimbau pada para teman-teman wartawan terutama jurnalis televisi untuk mengkritisi peristiwa, terutama terkait isu terorisme.
Ia melihat ada kejenuhan pewarta berita terhadap isu terorisme yang selalu ada skenario di baliknya.
Kebosanan itu mengakibatkan wartawan tidak jeli menggali fakta di lapangan.
“Anda punya gambar. Anda punya bukti yang sangat jelas terhadap peristiwa kerusuhan. Anda punya cerita yang lebih detil. Dengan gambar Anda bahkan bisa bantu Komnas HAM,” ucap Hanibal, mantan wartawan Koran Tempo itu.
Mengapa Guru Ngaji?
Menanggapi fakta yang diungkap oleh Hanibal, Ketua PBNU, Slamet Effendi Yusuf, mendukung Hanibal untuk mengungkapnya dengan membuat buku.
The Untold Stories, asal bukan fitnah, dituliskan saja jadi buku,” jelasnya.
Mengomentari jawaban Susno mengenai dua orang yang dipersiapkan untuk skenario selanjutnya, Slamet mengindikasikan jawaban itu seperti sebuah sandiwara.
“Seolah-olah terorisme ini seperti cerita bersambung Bukit Manoreh-nya SH. Mintardja,” ulasnya.
Seperti diketahui, cerita berseri karya SH Mintardja tahun 1967 “Api di Bukit Menoreh” terdiri dari 396 jilid. Bahkan hingga akhir hayatnya, kisah yang diambil dari sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam itu masih belum selesai meski si penulis telah meninggal dunia.
Sementara itu aktivis Muhammadiyah yang juga Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa B. Nahrawardaya, mengatakan bahwa setiap peristiwa yang terkait terorisme pasti ada orang-orang misterius yang tiba-tiba saja menghilang.
Ia mencontohkan seperti Kiai ang aktif di Muhammadiyah. Suatu hari Kiai yang berkegiatan di Malang pada awal 1980-an, tiba-tiba didatangi oleh orang ang mengaku ingin berguru padanya. Kiai itu memiliki disabilitas melihat (tuna netra).
Kemudian murid yang mengaku bernawa Jawat itu mengajaknya plesiran ke Yogyakarta. Sampai di sana Kiai itu dituduh sebagai pelaku Bom Borobudur.
“Ke mana Jawat? Lenyap.”
Ia mengatakan, sebetulnya pernyataan mantan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN), Syamsir Siregar, sudah bisa menjawab tentang skenario penggrebekkan.
“Sudah sejak tahun 2005 Kepala BIN sendiri yang bilang bahwa seluruh Ormas dan Pergerakkan Islam akan disusupi intelegen,”ulas Mustofa.
Jadi jangan heran jika ada orang-orang misterius yang semula menempel pada target operasi, tiba-tiba menghilang.
Polisi, dikatakan oleh Mustofa, harus mengkritisi fakta di lapangan.
“Sehari-hari ngajar ngaji, kok diumumkan jadi pelaku terorisme,”ungkap Mustofa yang banyak mengumpulkan fakta terkait kejanggalan penanganan terorisme di Indonesia.*

Source: http://www.hidayatullah.com/read/2013/11/26/7475/terorisme-seperti-cerita-seri-%E2%80%9Capi-di-bukit-menoreh%E2%80%9D.html

http://pesantrenmasyarakat.com/blog/terorisme-seperti-cerita-seri-api-di-bukit-menoreh.html Terorisme, seperti Cerita Seri “Api di Bukit Menoreh”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *