Anthony John Stanhope Reid—yang dikenal oleh teman, mahasiswa, dan kolega sebagai Tony—meninggal dunia pada hari Minggu, 8 Juni 2025, di Canberra. Itu adalah hari Minggu yang tenang, seperti biasanya dihabiskan untuk beribadah di gereja dan merenung bersama istrinya, Helen, pasangan hidupnya dalam bidang akademik dan kehidupan. Sebulan sebelumnya, saya bertemu Tony secara tak terduga di antrean kopi di Rumah Sakit Canberra setelah konsultasi onkologinya. Duduk di bawah sinar matahari akhir musim semi yang sejuk, kami berbicara bukan tentang penyakit tetapi tentang Helen. “Saya hanya ingin memastikan Helen terurus dengan baik,” katanya pelan, sangat khawatir bahwa Helen mungkin akan hidup lebih lama darinya.
Perjalanan akademis Tony Reid dimulai di Victoria University of Wellington, Selandia Baru, tempat ia aktif terlibat dalam Gerakan Kristen Mahasiswa. Dari konteks awal ini muncul orientasi intelektual progresif yang berlandaskan cita-cita keadilan sosial dan egalitarianisme. Tidak seperti banyak rekan sezamannya yang berfokus pada Eropa atau Amerika Utara, Reid secara tegas beralih ke Asia Tenggara—yang saat itu merupakan wilayah marginal dalam kajian global. Tujuannya bukan hanya untuk mempelajari Asia Tenggara, tetapi untuk menulis ulang sejarahnya dari dalam, menantang paradigma Eurosentris dan epistemologi kolonial. Ia secara konsisten memperlakukan wilayah tersebut bukan sebagai objek teori Barat, tetapi sebagai penghasil pengetahuan tersendiri.
Reorientasi epistemologis ini menemukan ekspresi paling lengkapnya dalam karya besarnya tahun 1990, Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680 . Dalam karya dua jilid ini, Reid merekonseptualisasikan Asia Tenggara sebagai dunia maritim yang dinamis dan saling terhubung, yang dihubungkan oleh angin monsun, kota-kota pelabuhan, pertukaran komersial, dan gerakan keagamaan. Dengan menolak historiografi nasionalis dan kolonial yang memecah belah wilayah tersebut, ia menunjukkan bahwa jauh sebelum imperialisme Eropa, Asia Tenggara merupakan bagian dari kesinambungan sejarah kosmopolitan dan global. Melalui penggunaan catatan perjalanan, catatan komersial, dan detail etnografi, Reid mengungkap dunia yang kaya akan keterkaitan budaya dan ekonomi.
Secara metodologis, Reid berkomitmen untuk menulis sejarah dari bawah. Ia menyoroti kehidupan sehari-hari, budaya material, lingkungan, dan praktik keagamaan populer. Penggunaannya terhadap catatan perjalanan awal Eropa dan dokumen kolonial bersifat kritis dan etnografis: alih-alih menganggapnya sebagai catatan objektif, ia memperlakukannya sebagai lensa yang membiaskan pandangan masyarakat pribumi—dengan segala biasnya. Selain itu, Reid menggunakan data ekonomi seperti harga komoditas dan statistik ekspor untuk menggambarkan titik balik sejarah, terutama krisis abad ke-17 yang menandai kemunduran “Zaman Perdagangan” Asia Tenggara. Skeptisisme terhadap teori-teori besar yang diimpor membawanya untuk membangun periodisasi sejarah yang berlandaskan dinamika regional.
Meskipun terlatih dalam tradisi historiografi Eropa, kesetiaan etis dan intelektual Reid tertuju pada kaum marginal: perempuan, buruh, petani, komunitas Tionghoa diaspora, dan penganut tradisi spiritual lokal. Dari karya doktoralnya tentang perlawanan anti-kolonial di Aceh, yang diselesaikan di Cambridge, hingga studi-studinya kemudian tentang revolusi Indonesia, Reid secara konsisten mendekati sejarah sebagai bidang yang dibentuk oleh perjuangan dan aspirasi rakyat biasa. Momen penting dalam orientasi ini terjadi selama perjalanan penelitiannya ke Sumatera pada tahun 1966, di mana ia menyaksikan langsung semangat revolusioner dan penderitaan penduduk setempat. Pertemuan ini sangat memengaruhi bukunya tahun 1979, The Blood of the People , di mana Reid berpendapat bahwa revolusi Indonesia 1945–46 di Aceh dan Sumatera Timur adalah pemberontakan sosial massal, bukan sekadar transisi politik yang diatur oleh elit.
Bagi Reid, revolusi bukan hanya peristiwa nasional tetapi juga perpecahan sosial yang mendalam dengan potensi transformatif. Pada tahun 2009, ia secara provokatif berpendapat dalam bukunya Imperial Alchemy: Nationalism and Political Identity in Southeast Asia bahwa “penyatuan Indonesia sebagai negara-bangsa yang terpusat (belum lagi Tiongkok) tidak mungkin terjadi tanpa revolusi.” Reid membingkai revolusi sebagai wadah tempat legitimasi nasional baru ditempa, khususnya di dunia dekolonisasi pertengahan abad ke-20. Namun ia juga mengakui paradoksnya. Seperti yang ia amati pada tahun 2011 dalam To Nation by Revolution: Indonesia in the 20th Century , negara-negara pasca-revolusi sering menggunakan retorika revolusioner untuk menekan pluralisme dan perbedaan pendapat: “Revolusi tidak memberikan semua yang dijanjikannya, tetapi membuka kemungkinan yang dulunya tak terpikirkan.” Bagi Reid, revolusi bersifat emansipatif sekaligus melukai, dan warisannya yang belum selesai menuntut refleksi kritis yang berkelanjutan.
Terkait
Yang tak kalah penting adalah warisan institusional Reid. Ia bukan hanya seorang cendekiawan yang produktif, tetapi juga pembangun komunitas ilmiah. Di UCLA, ia mendirikan Pusat Asia Tenggara, dan kemudian menjadi direktur pendiri Institut Riset Asia (ARI) di Universitas Nasional Singapura. ARI dirancang sebagai ruang intelektual inklusif, yang sengaja bersifat interdisipliner dan lintas generasi, yang bertujuan untuk mendorong dialog kritis lintas batas nasional dan teoretis. Bagi Reid, itu juga merupakan tempat eksperimen epistemik: “ARI adalah tempat di mana Anda dapat melihat apakah teori Anda masuk akal dari perspektif Asia. Tetapi bukan berarti mengesampingkan seseorang hanya karena mereka tidak cukup tahu tentang Asia,” katanya suatu kali. Di bidang yang sering ditandai dengan penjagaan intelektual, ARI di bawah kepemimpinan Reid menjadi ruang keterbukaan dan keramahan intelektual yang langka.
Ratusan cendekiawan muda mendapat manfaat dari bimbingan Reid. Ia bukanlah seorang pembimbing yang menggurui, melainkan seorang penengah intelektual yang empatik dan murah hati. Ia akan membaca draf panjang karya para peneliti muda dan memberikan umpan balik yang tajam namun tetap memberi semangat. Ia selalu punya waktu untuk percakapan yang mendalam, baik di antara panel akademis maupun setelah pertandingan tenis yang seru. Ia mendengarkan dengan saksama, bukan untuk menginterogasi, tetapi untuk memahami. Di atas segalanya, Reid tetap berkomitmen untuk membina generasi baru cendekiawan Asia Tenggara—mereka yang akan menulis dengan kebebasan intelektual, empati yang mendalam, dan wawasan regional.
Dengan kepergiannya, studi Asia Tenggara telah kehilangan salah satu suara yang paling berpengaruh. Namun, warisan Reid—komitmennya pada sejarah dari bawah ke atas, integritas intelektual, dan martabat suara-suara yang terpinggirkan—akan terus membentuk bidang ini selama beberapa dekade mendatang. Karyanya mengingatkan kita bahwa sejarah bukanlah alat kekuasaan, melainkan ruang untuk mempertanyakan, memahami, dan menyembuhkan. Bagi Anthony Reid, pengungkapan kebenaran tentang masa lalu bukanlah ancaman bagi bangsa, melainkan fondasi kematangannya. Dalam semangat ini, ia tetap menjadi penerang bagi para sarjana yang berkomitmen untuk menulis sejarah Asia Tenggara dari dalam.